Sekolah Marjinal

Saat ini sudah memasuki tahun 2011, tinggal 1 tahun lagi kiamat datang Nggak, gue enggak mau ngebahas soal kiamat. Sudah ada yang berkompeten di bidangnya (sekaligus kiyeng buat ngebahas soal 2012 ). Balik lagi ke tahun 2011 tadi, gue akan ngebahas soal pendidikan di nusantara ini... Yang sekarang jadi tambah mahal dan kurang bermutu. Dari sudut orang awam tentunya... Coz gue bukan orang pendidikan.

Kita bandingkan dulu antara pendidikan masa kini dengan pendidikan jaman baheula. Sekarang, pendidikan lebih dimudahkan (baca: dimanjakan) dengan hadirnya teknologi mutakhir macam komputer. Semua jadi serba mudah, tinggal colokan ke proyektor langsung bisa presentasi. Nyari materi tinggal ke warnet, terus tanya mbah Google. Ngetik makalah bisa dimana aja, cukup bawa laptop. Dan segudang kemudahan lainnya... Sedangkan jaman baheula, nulis di kelas aja masih pake kapur. Nyari materi kudu ke perpus, padahal saat itu perpus mungkin masih jarang, kalaupun ada ya koleksinya cuman itu-itu aja. Ngetik tugas pake mesin tik, yang bunyinya cetak! cetak!! det..det...det... cetak!! Fiuuh... Betapa ngenes-nya orang jaman dulu...

Tak bisa dipungkiri lagi, kehadiran teknologi sangat membantu dalam pembelajaran. Layar dunia pendidikan lebih berwarna, tidak hanya hitam putih. Juga karena tuntutan perkembangan zaman yang semakin maju, kita dituntut untuk mengadopsi dan memakai teknologi terbaru supaya tidak ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Supaya kita bisa bersaing. Dan terbukti!! Anak-anak Indonesia sekarang banyak yang memenangi olimpiade mapel, kontes robot, dsb. yang berskala dunia. Tapi, yang belum gue lihat tuh perkembangan selanjutnya dari mereka-mereka para pemenang olimpiade, kontes, lomba internasional wujud kontribusi nyata untuk Negara Indonesia, untuk memajukan Indonesia, untuk membuat Indonesia lebih baik dari sekarang dengan kecerdasan mereka. Bukan hanya menang kontes, terus tidur di rumah enggak mau berbuat lebih untuk negaranya. Kalo hanya gitu, ya buat apa susah-susah ikutan kontes terus menang, tapi “ide”-nya cuman disimpen di otak. Mubadzir banget.... Dan sepertinya, kemudahan justru mendatangkan rasa malas.

Bandingkan dengan orang jaman dulu. Orang-orang jaman dulu mampu menghafal banyak materi pelajaran, karena saat itu tak ada media untuk mencatat, sekalipun ada masih sangat jarang dan mahal. Sehingga mau tak mau ya harus dihafal. Dan mungkin mereka lebih pinter dibanding dengan kita. Jangan mentang-mentang kita bisa ngoperasiin komputer terus nganggep kita lebih pinter masalahnya dulu belum ada komputer. Coba kalo sudah ada, ya enggak mungkin banget lahh...

Bicara pendidikan di Indonesia, “sejarah pasti terulang”. Demikian kata Pak Hadi, guru Sejarah gue pas SMA. Namun dengan aktor dan setting yang berbeda, kesamaannya hanya peristiwanya saja. Indonesia tempo doeloe, pendidikan milik kaum bangsawan. Bahkan wanita enggak boleh mengenyam bangku sekolah. Ya iyalah, bangku sekolah itu buat duduk bukan buat di enyam (enyam itu apaan ya... ). Dan kini, sejarah itu kembali terulang. Sekarang pendidikan sangat mahal. Bahkan lebih mahal daripada cabe dan gula Mungkin karena pengaruh teknologi ya... Makanya operasionalnya jadi mahal. Yang jelas, sekarang tak ada sekolah murah.

Hanya ada beberapa orang yang peduli dengan masa depan pendidikan Indonesia, dengan mengajar sekolah-sekolah marjinal yang letaknya di pelosok dan terpencil. Para guru ini memang bener-bener pejuang tanpa tanda jasa. Mereka rela digaji kecil, bahkan tidak digaji untuk “sekedar” menularkan kepinterannya pada anak-anak penerus bangsa. Di ibukota pun ada beberapa artis dan orang berduit yang mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak jalanan. Seperti inilah harusnya orang berdasi itu. Tapi sekali lagi sangat disayangkan, jumlah mereka kalah jauh dengan tikus berdasi.

Yah itulah Indonesia. Bangsa yang katanya kaya. Bangsa yang katanya dulu memiliki peradaban tinggi. Bangsa yang sopan dan luhur. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan... Semoga kalian yang berkompeten dibidangnya masing-masing mampu memberikan yang terbaik untuk Indonesia, seperti Timnas Indonesia saat melawan Timnas Malaysia di final AFF 2010. Mereka berjuang mati-matian, walopun akhirnya kalah Tapi proses lebih penting daripada hasil. Proseslah yang membentuk kepribadian dan karakter dengan menunjukan potensi yang dimiliki.

Gue hanya bisa memberikan ini, karena bidang gue disini. Dan gue tetep berharap dan berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi untuk Indonesia... Untuk pendidikan Indonesia.

Penulis : degiam ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Sekolah Marjinal ini dipublish oleh degiam pada hari Selasa, 18 Januari 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Sekolah Marjinal
 

0 komentar:

Posting Komentar