Saat ini sudah memasuki tahun 2011, tinggal 1 tahun lagi kiamat datang Kita bandingkan dulu antara pendidikan masa kini dengan pendidikan jaman baheula. Sekarang, pendidikan lebih dimudahkan (baca: dimanjakan) dengan hadirnya teknologi mutakhir macam komputer. Semua jadi serba mudah, tinggal colokan ke proyektor langsung bisa presentasi. Nyari materi tinggal ke warnet, terus tanya mbah Google. Ngetik makalah bisa dimana aja, cukup bawa laptop. Dan segudang kemudahan lainnya... Sedangkan jaman baheula, nulis di kelas aja masih pake kapur. Nyari materi kudu ke perpus, padahal saat itu perpus mungkin masih jarang, kalaupun ada ya koleksinya cuman itu-itu aja. Ngetik tugas pake mesin tik, yang bunyinya cetak! cetak!! det..det...det... cetak!! Fiuuh... Betapa ngenes-nya orang jaman dulu...
Tak bisa dipungkiri lagi, kehadiran teknologi sangat membantu dalam pembelajaran. Layar dunia pendidikan lebih berwarna, tidak hanya hitam putih. Juga karena tuntutan perkembangan zaman yang semakin maju, kita dituntut untuk mengadopsi dan memakai teknologi terbaru supaya tidak ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Supaya kita bisa bersaing. Dan terbukti!! Anak-anak Indonesia sekarang banyak yang memenangi olimpiade mapel, kontes robot, dsb. yang berskala dunia.
Bandingkan dengan orang jaman dulu. Orang-orang jaman dulu mampu menghafal banyak materi pelajaran, karena saat itu tak ada media untuk mencatat, sekalipun ada masih sangat jarang dan mahal. Sehingga mau tak mau ya harus dihafal. Dan mungkin mereka lebih pinter dibanding dengan kita. Jangan mentang-mentang kita bisa ngoperasiin komputer terus nganggep kita lebih pinter
Bicara pendidikan di Indonesia, “sejarah pasti terulang”. Demikian kata Pak Hadi, guru Sejarah gue pas SMA. Namun dengan aktor dan setting yang berbeda, kesamaannya hanya peristiwanya saja. Indonesia tempo doeloe, pendidikan milik kaum bangsawan. Bahkan wanita enggak boleh mengenyam bangku sekolah. Ya iyalah, bangku sekolah itu buat duduk bukan buat di enyam (enyam itu apaan ya...
Hanya ada beberapa orang yang peduli dengan masa depan pendidikan Indonesia, dengan mengajar sekolah-sekolah marjinal yang letaknya di pelosok dan terpencil. Para guru ini memang bener-bener pejuang tanpa tanda jasa. Mereka rela digaji kecil, bahkan tidak digaji untuk “sekedar” menularkan kepinterannya pada anak-anak penerus bangsa. Di ibukota pun ada beberapa artis dan orang berduit yang mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak jalanan. Seperti inilah harusnya orang berdasi itu. Tapi sekali lagi sangat disayangkan, jumlah mereka kalah jauh dengan tikus berdasi.Yah itulah Indonesia. Bangsa yang katanya kaya. Bangsa yang katanya dulu memiliki peradaban tinggi. Bangsa yang sopan dan luhur. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan... Semoga kalian yang berkompeten dibidangnya masing-masing mampu memberikan yang terbaik untuk Indonesia, seperti Timnas Indonesia saat melawan Timnas Malaysia di final AFF 2010. Mereka berjuang mati-matian, walopun akhirnya kalah
Gue hanya bisa memberikan ini, karena bidang gue disini. Dan gue tetep berharap dan berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi untuk Indonesia... Untuk pendidikan Indonesia.


0 komentar:
Posting Komentar