
Mereka adalah lahan usaha bagi motivator. Bukan salah yang punya masalah, juga bukan salah si motivatornya. Ya emang keadaan yang menyebabkan begitu, entah karena faktor apa. Namun, sekarang kalian harus menerima kenyataan bahwasanya berpikir positif tidak menyembuhkan penyakit, yang ringan sekalipun macam panu.
Kenapa mesti panu sih ?
Ah nggak penting buat dibahas.
Ane nemu artikel di Okezone.com tentang berpikir positif ini, lumayan lama sih, tapi nggak papalah. Nih link-nya. Lalu napa ane mempermasalahkannya??
Sebagai makhluk yang beragama, ane percaya sama Tuhan. Semua makhluk beragama pasti tau mengenai Tuhan-nya. Di Islam, disebut Khusnudzon. Artinya berbaik sangka, ya macam berpikir positif gitu lah. Yang pengen tau lebih lanjut mengenai khusnudzon, bisa liat disini
Khusnudzon termasuk perilaku terpuji, karena menganut asas praduga tak bersalah. Jadi enggak kayak detektif yang sukanya nyari-nyari kesalahan orang laen. Tapi kasian detektifnya dikatain enggak terpuji
Inilah kaitan antara khusnudzon dan berpikir positif serta kesembuhan penyakit (ribet banget ya..) adalah mengenai sistematika khusnudzon kepada Allah SWT yang secara langsung maupun tidak langsung menjadikan nalar dan logika kita berada pada taraf yang positif, dan manfaat dari khusnudzon sendiri salah satunya adalah diberi kenikmatan. Yang sakit jadi sembuh, yang ditolak melulu akhirnya diterima, yang galau pun sekarang sudah sembuh
Esensi dari kesembuhan penyakit itu sebenarnya berasal dari Allah SWT, bukan dari pikiran manusia sendiri (bukan mbah dukun ya... apalagi mbah google). Dan saya kira tidak hanya di Islam, di semua agama pun sama. Sama-sama mengajarkan untuk berprasangka baik pada sesama manusia maupun Tuhan-nya.
Kalo ada yang enggak setuju sama opini ane, ya silakan aja... Itu hak kalian kok... Saya hanya sharing...


0 komentar:
Posting Komentar